Rabu, 25 Mei 2011

Roemah Pelantjong




Roemah Pelantjong adalah instalasi retail dengan pernik budaya, bisnis, hiburan, makanan, kerajinan inovatif, batik, sutera, dan masih banyak lagi lainnya. Rencananya pada 18 Juni 2011 Kami akan mendeklarasikan Djogdjakarta sebagai ibu kota terpelan di dunia, dengan pemaknaan pelan sebagai sesuatu yang indah, nikmat, luar biasa.

Pemrakarsa Roemah Pelantjong adalah Kafi Kurnia-si Biang Penasaran dan rekan-rekan pemangku dari Djogdjakarta yang memiliki banyak kreasi kental bernuansa Djogjakarta dan inovatif.

Roemah Pelantjong terletak di Jl. Magelang KM 8 No 89, Yogyakarta.

Rabu, 30 Maret 2011

Satu Jam di Tugu Jogja

Tahun 2011 adalah tahun kedua kota Yogyakarta ikut bergabung dalam Earth Hour. Dengan tim yang bisa dibilang sangat mini, ternyata tidak selalu menghasilkan sesuatu yang mini juga.



Perempatan Tugu Jogja menjadi saksi betapa tidak sedikit warga Jogja yang masih peduli pada lingkungan dan ingin menjadi bagian dalam Earth Hour.
Walau tahun ini perempatan Tugu kembali menjadi pusat Earth Hour Jogja, namun ada juga dua ikon kota yang juga dipadamkan malam itu-Air Mancur Adipura di Jalan Abu Bakar Ali dan Candi Prambanan.

Kawasan Tugu mulai ramai pada pukul 20.00 WIB. Bukan hanya anak muda dari SMA dan Universitas di kota Jogja yang hadir, namun juga komunitas-komunitas yang cukup beragam-beberapa komunitas sepeda, Komunitas Parkour, Fiksimini Jogja (komunitas menulis), Cah Andhong (komunitas blogger Jogja), United Indonesia (komunitas penggemar Manchaster United), Kine Club (komunitas film-maker Universitas Atmajaya Yogyakarta), dan masih banyak lagi.


Acara dibuka oleh MC yang disusul dengan sambutan dari wakil panitia Earth Hour Jogja, Mas Towil, dan dilanjutkan dengan penampilan akustik dari SMA Bopkri 1. Pemadaman Tugu Jogja ditandai dengan hitungan mundur dari angka sepuluh. Saat terdengar teriakan “satu!” serempak, balon-balon berwarna biru-putih-hijau pun dilepaskan ke angkasa oleh para finalis Dimas-Diajeng Jogja, dan kawasan Tugu menjadi gelap. Lilin mulai dinyalakan, termasuk lilin-lilin yang sudah disusun membentuk logo 60+.






Massa yang hadir berkumpul di dua titik, di sisi selatan perempatan Tugu di yang menjadi tempat beraksinya para pengisi acara, dan di sekeliling Tugu sendiri.
Pengisi selanjutnya adalah penampilan akustik dari SMA Stella Duce 2, SMA Bopkri 1, Kingdom Basketball Freestyle, Tari Saman dari SMAN 3, dan ditutup dengan penampilan akustik dari SMA Kolese de Britto.



Kawasan Perempatan Tugu malam itu cukup padat hingga kendaraan bermotor pun harus bersabar saat melintas. Salut untuk para polisi yang ikut membantu mengatur lalu lintas malam itu.

Turut bergabung dalam Earth Hour tahun ini adalah Hotel Sheraton, Ibis, Santika, dan Novotel yang ikut memadamkan lampu.




Foto-foto lain bisa dilihat di Facebook Group Earth Hour Indonesia Jogja

Kamis, 16 Desember 2010

One Hour With Agnes

Kalau Jennifer Lopez sempat menyebut dirinya J.Lo, Christina Aguilera sampai sekarang masih mengibarkan bendera Xtina, kita punya Agnes Monica yang sekarang juga dikenal dengan sebutan Agnezmo (paling tidak begitulah dia menyebut dirinya di akun twitter-nya, @agnezmo).

Alright, so here we go. Jadi akhirnya semalam saya nonton konser (atau mini concert) Agnezmo di salah satu club di Jalan Magelang.
Well, saya bukan tipikal orang yang suka menonton konser, maksud saya, mengantri masuk ke venue, berdesak-desakan, berdiri sepanjang konser sampai pegal, ah, siapa yang mau seperti itu?! *ngaca woi! Kemaren dating konser juga khan?!*

Lalu kenapa akhirnya saya datang ke konser Agnezmo? Begini kisahnya *halah*, jadi seminggu sebeluh hari H konser, sudah banyak ajakan untuk nonton konser bareng, tapi berhubung keuangan tidak memadahi, saya hanya bilang, “Ntar kalau THR turun, aku ikut nonton”. Ternyata sampai Rabu (15/12) malam pun, ATM masih berisi tujuh ratus sekian rupiah. Nah, hari Kamisnya, saya bilang ke diri saya sendiri, “Kalau malam ini ATM keisi, saya bakal nonton Agnes Monica!”

Lha kok ya pas pulang kantor jam 10, saya iseng ngecek ATM via telpon di rumah, dan ternyataaaa… sudah berisi sekian ratus ribu rupiah! Ya sudah tho, janji (pada diri sendiri) harus ditepati. Saya telpon beberapa teman, dan blablabla dan blablabla, dan saya sudah berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang menunggu neng Agnes. Total rombongan saya ada dua belas orang.

*tengok kanan, tengok kiri*. Ya.. ya.. lengkap semua jenis ada di club malam itu. Kimchil-kimchil, jelas banyaaak; manusia-manusia eksis yang sering beredar, banyak juga; mbak-mbak dengan dandanan super-rempong; mas-mas gay yang berusaha ngondek sesedikit mungkin; sampai mbak-mbak berjilbab yang tampak agak risih berada di dalam club, ada semua. Oh iya, ada beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu, plus, ada yang bawa anak balita cobaaaa!!!! (Come on, mommy, it’s not a good thing to put your kid inside a smoke chamber!)

Oke, cukup mengomentari para hadirin dan hadirot. Now, Agnes Monica.

Outfit, menurut saya biasa aja, seperti mau jogging di Sunday Morning UGM, tapiii.. ga ada khan yang sunmor-an pake breast holder (bukan BH lho, saya ga tau sebutannya, maklum bukan orang fashion) yang menyangga bagian bawah dada itu lho.. ah, sudahlah, ini ada gambarnya. Catchy?! Of course.



Suara, jelas beniiiing… tak perlu diragukan. Hanya saja, Agnes agak memaksakan suara tingginya di salah satu lagu (lupa lagu apa), tapi kedengerannya jadi seperti teriak-teriak.
Dance? She’s still the best in her class, because she’s the only one! Belum ada khan penyanyi Indonesia yang bisa menandingi her choreography and her move?! Tapi, kalau saya pribadi, entah kenapa masih belum bisa merasakan greget, dan belum bisa ikut merinding ketika melihat Agnes and her Nezindahood dancers (bener ga sebutannya?).
Nah, yang mau saya komentari juga adalah tentang penggunaan bahasa. She did bilingual in the concert (well maybe in every concertshe did), dan itu keren sekali, untuk yang mengerti dan sangat fasih berbahasa Inggris. Sayangnya, tidak semua penonton konser malam itu bisa berbahasa Inggris (entah kenapa saya yakin sekali akan hal ini). Well, jika mereka berteriak histeris saat Agnes berusaha berinteraksi dengan Bahasa Inggris, saya yakin itu karena ada energi luar biasa yang mereka berikan untuk Agnes, bukan karena mereka benar-benar mengerti dan paham.

My favourite? Temperature of course, yang menjadi penutup konser malam itu. I just love the song, and the choreography. Sayangnya tidak dijadikan single dan tidak dibuat videoklipnya.

So, I’m gonna give eight out of my ten fingers to your one hour concert, Agnes.

PS. You are not the only one under the spotlight, girl. Some of your beloved soldiers are just too cute to see.

[gamabr diambil dari @FansAgnesMonica disini --> http://plixi.com/p/63442204]

Minggu, 30 Mei 2010

Dream and World No Tobacco Day

Tidak terasa sudah seminggu saya belum doyan untuk merokok lagi. Lucunya, ternyata seminggu tanpa rokok saya ini ternyata bertepatan dengan World No Tobacco Day.


Kenapa tidak doyan merokok lagi? Apakah karena ada yang menyuruh? Atau karena paru-paru saya sudah terlalu penuh dengan nikotin? Atau karena saya ingin lebih hemat? Tidak.

Titik mula saya tidak doyan merokok lagi adalah karena mimpi. Superficial sekali ya? Tapi itulah kenyataannya. Seminggu lalu saya bermimpi berbincang-bincang dengan malaikat kematian (ini serius). Banyak yang tanya seperti apa wujudnya malaikat kematian itu ketika saya bercerita pada mereka. Saya bilang ya seperti manusia biasa. Terus dari mana saya tahu kalau dia itu adalah malaikat kematian? Ya karena dia mengatakannya pada saya.

Percakapan kami adalah di ruang makan rumah saya. Dia bercerita bagaimana dia menjemput mereka yang sudah habis waktunya di dunia, kemudian membawa mereka “pulang”. Mirip lah sama film City of Angel yang dibintangi Meg Ryan dan Nicolas Cage.

Intinya adalah, di akhir percakapan kami, dia mengatakan bahwa di masa sekarang ini, akan ada banyak kematian karena rokok.


Paginya, saya yang biasa merokok dan ngopi setelah bangun tidur, tak merasakan keinginan untuk menambah asupan nikotin dan tar ke paru-paru saya. Pernah sekali saya menghisap rokok lagi karena sekedar “kepingin” melihat teman saya yang tampak nikmat sekali dengan hisapan-hisapan rokonya. Namun dua hisapan rokok itu berasa hambar di mulut saya. Tak ada nikmatnya. Dan sampai sekarang saya memang belum kepingin lagi untuk mengisi paru-paru saya dengan asap rokok. Ya, semoga saja saya tidak akan pernah kepingin lagi.






------

Jujur saja, mimpi itu memang sangat berpengaruh pada saya beberapa hari setelahnya. Saya mulai memikirkan hidup yang menurut orang Jawa “mung mampir ngombe” alias cuma mampir minum saja. Perpanjangannya? Saya mulai memikirkan tentang bagaimana memperbaiki kualitas hidup saya dan bagaimana saya bisa menjadi lebih berguna di masa hidup yang hanya singkat ini.

Apakah saya sudah berhasil? Belum. Namun saya sedang berusaha.


Jumat, 19 Februari 2010

how's your language?

Saya rasa semakin banyak orang yang lupa bagaimana caranya bertata krama. Sebagai orang jawa, yang terbiasa dengan budaya lembut (anda tahu khan, tarian jawa saja pelaaaannya minta ampun), saya masih sangat peka sekali dengan penggunaan bahasa dan tone bicara.

Bukannya rasis, cuma saya sampai sekarang saya masih merasa bahwa bahasa betawi itu agak kasar (lihat saja kalo mpok nori bicara), bahasa batak juga sama (karena nada bicara yang agak keras dan menghentak).

Tapi sebenarnya bagi saya, bahasa jawa bisa lebih kasar dan bahkan terkesan sedikit mengancam. Saya bicara tentang penggunaan bahasa jawa ngoko atau bahasa jawa kasar (untuk bicara dengan orang-orang sebaya/ selevel atau dengan yang lebih muda).

Barusan saja saya dapat contohnya.

Beberapa jam lalu ada misscall logs muncul di hape saya, dari nomor asing. Tidak saya kenal. Btw, dua kali nomor itu me-miscall saya. Dengan niat baik, saya mengirim sms ke nomer itu untuk menanyakan siapa si pe-misscall itu. Bisa jadi khan dari teman saya yang nomernya belum saya save di phonebook, atau mungkin dari perusahaan besar yang ingin memberikan tawaran kerja :P

Selang beberapa jam (beberapa menit sebelum saya menulis ini) ada nomor asing menelpon.

Oh, nomor yang tadi, dengan ramahnya saya jawab
‘halo..’
‘halo.. sopo iki?’ (halo, siapa ini?) kata si penelpon laki-laki berlogat jawa kental dengan songong.
‘maaf tadi nomer ini nelpon saya’
‘haa?! ora.. iki sopo? mau sms ngopo?!’ (enggak, ini siapa? Tadi kenapa sms?!) masih songong.
‘gini mas, tadi nomer ini nelpon saya, makanya saya sms buat nanyain siapa ini?’
*diam sesaat sambil seperti berbicara dengan orang dibelakangnya*
woalah...’ (halah...) tetap masih kedengaran songong.

Lalu telpon ditutup.

Nah, itulah yang saya maksudkan. si penelpon tadi berbicara dengan bahasa jawa ngoko. Untung saja saya mengerti bahasa jawa, jadi saya masih mengerti apa yang dia katakan.

Bagaimana kalo misalnya saya orang sunda yang tidak mengerti bahasa jawa sama sekali?! Atau orang manado?! Atau bahkan mungkin orang asing yang baru belajar bahasa indonesia?!

Atau kalaupun saya seorang jawa asli yang bisa berbahasa jawa, bagamana jika ternyata saya lebih tua?! Bagaimana seandainya saya seumuran kakeknya?! Bagaimana jika saya ternyata sultan!? (kalo contoh yang ini agak berlebihan)


Kenapa saya keukeuh menjawab dengan bahasa indonesia? Jawabannya untuk mengedukasi (berat nih omongannya). Maksud saya adalah ketika orang itu tahu saya menjawab dalam bahasa indonesia, kenapa dia tidak segera menanggapi dengan bahasa indonesia juga?! khan terdengar lebih enak di kuping to?!

*Wis ngoko, kemlethak meneh cara ngomonge! (baca: udah pake bahasa jawa kasar, songong lagi cara bicaranya)

Itulah kenapa sampai sekarang saya lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia di manapun kepada siapapun, atau bahasa kromo (bahasa jawa halus yang digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua atau dengan orang2 yang level nya lebih tinggi di banding kita). Ya walupun bahasa jawa kromo saya adalah kromo pating pecothot (baca: acakadut/kacau), karena saya memang tidak pernah diajarkan bagaimana berbicara bahasa jawa kromo di rumah.

Alasan ibu saya tidak menggunakan bahasa jawa di rumah (dengan saya dan adik saya) adalah beliau takut cara bicara saya jadi terdengar kasar.

Jadi ceritanya ibu saya melakukan manuver perubahan bahasa ini setelah beliau tahu jika ternyata mbak pengasuh saya tidak bisa berbahasa jawa kromo, jadi dia selalu menggunakan bahasa jawa ngoko ketika mengasuh saya.

Ketakutan ibu saya adalah, daripada nantinya bahasa saya terdengar kasar dan tidak sopan ketika berbicara pada orang lain (karena menggunakan bahasa jawa ngoko), lebih baik diajarkan bahasa indonesia saja sekalian saja yang lebih netral.

Benarkah cara didikan seperti ini?! Mungkin. Hanya saja efeknya, dulu kata ibu saya, teman-teman saya sempat meragukan ke-jawa-an saya.
‘kamu tuh orang mana to?’ kurang lebih seperti itu pertanyaan teman-teman kecil saya dulu karena saya hampir tidak bisa berbahsa jawa sama sekali.
Kalau sekarang sih saya sudah bisa berbahasa jawa.




NB. Untuk lebih menegaskan ke-jawa-an saya, saya sudah membuat tattoo nama saya dalam huruf jawa di lengan kiri saya.


Kamis, 18 Februari 2010

Marsha VS Paris

Bagi anda pemilik acount twitter dan rajin ngetwit.. anda pasti tahu siapa marsha, atau lengkapnya @marshasaphira. Remaja ABG ini baru-baru ini menjadi bahan pembicaraan di dunia maya. Namanya sempat menjadi ternding topic dan juga masuk ke situs berita detik.com

Setelah saya melakukan penelusuran independen melalui search engine twitter (iseng banget ya, kaya kurang kerjaan aja) ternyata kehebohan ini berawal ketika si marsha ini me-retweet post berbahasa inggris yang dituliskan @wordloveforus, yang memang salah dari sisi structure bahasanya (dan setelah saya baca twit berbahasa inggris-nya, memang kebanyakan salah struktur)

Ternyata kemudian retweet-retweet ini berlanjut dengan marsha yang memberi komentar tentang sekolah negeri yang tidak terlalu mengenakkan. Setelah itu follower kedua pihak terus bertambah sampai ribuan. Kebanyakan dari mereka sih sepertinya hanya penasaran darimana akar pertarungan twitter ABG ini.

Eh lha koq baru tadi ini saya buka twitter via destroytwitter, ternyata teman saya vera me-retweet sesuatu yang membuat saya tak habis pikir

== @vebutar RT @ParisHilton: yuck, you're an arsehole.Dyou think you richer than me? @marshaaaw ==

Whaaat??!!! Paris Hilton me-retweet marsha?!

Saya sempat shock.
Sepopuler itukah marsha sampai Mbak Hilton ini menyempatkan diri untuk men-tweet dirinya?!

*jujur saja saya sempat melakukan invertigasi lanjutan dengan membuka timeline paris hilton.. dan beberapa menit sesudahnya saya merasa bodoh X)*

“@ParisHilton” itu bisa dibuat oleh siapapun, dan siapapun si pembuat tweet Hilton VS Marsha ini menurut saya SANGAT GENIUS! Ha!

Welcome to the world where anybody could be anything





Btw, account marsha di twitter sudah dihapus. Jadi untuk anda yang belum sempat melihat marsha, manfaatkanlah search engine twitter dan google (kalau anda sedang kurang kerjaan saja ya) untuk mencari ABG fenomenal ini

Rabu, 17 Februari 2010

possessiveness

Baru-baru ini saya kehilangan salah satu anjing saya. Dia menerobos pintu halaman belakang yang diikat dengan tali dan lari ketika terdengar suara guntur. Anjing saya ini, yang diberinama Mocca karena kulitnya berwarna coklat, memang takut pada suara guntur dan hujan deras. Badannya selalu menggigil keras ketika hujan mulai turun, dan ia akan lari mencari perlindungan di bawah kaki ibu saya yang sedang mengetik skripsi untuk program sertifikasi guru.

Sampai sekarang, saya dan ibu saya selalu merasa sedih ketika hujan dan guntur terdengar, karena kami membayangkan pasti Mocca ketakutan sekali diluar sana. Dingin dan tak tahu harus berlindung dimana.


Tuh khan saya jadi sedih lagi T_T


Tapi kehilangan Mocca inilah yang membuat saya semakin menghilangkan salah satu insting manusia saya. Possessiveness.. *hmm.. bener nggak ya istilahnya?!*

Maksudnya possessiveness ini adalah rasa kepemilikan akan sesuatu.


Kenapa seorang anak menangis ketika ditinggal mati ibu atau ayahnya? Karena dia kehilangan hal yang menjadi miliknya.

Kenapa kita tidak menangis ketika ibu dari teman kita meninggal? Karena kita tidak merasa memiliki ibu dari teman kita itu, sehingga ketika ibu dari teman kita meninggal, kita tidak merasa kehilangan sama sekali.


Kadang kita juga tidak akan paham mengapa ada seseorang yang bias menagis tersedu-sedu ketika kucing atau anjing piaraaannya mati? Jawabannya sama seperti di atas. Karena dia merasa telah memiliki hewan piaraan dan tidak bias menerima kenyataan bahwa dia tidak akan memiliki hewan piaraan lagi setelah hewan itu mati.


Saat ini saya sedang berusaha menghilangkan possessiveness yang saya miliki. Saya selalu berusaha menyadarkan diri saya bahwa semua yang saat ini ada di sekitar saya, benda mati, ataupun benda hidup, semuanya bukan milik saya. Semua adalah bagian dan milik dari sebuah siklus raksasa yang akan di disfungsikan pada waktunya (atau kalau mau memakai istilah yang agak religius.. semua akan diminta kembali oleh Yang Kuasa ketika waktunya tiba nanti).


Bahkan jujur saja, saya selalu mempersiapkan diri untuk kehilangan tempat tinggal saya bias jadi karena bencana alam, atau mungkin kehilangan orang tua saya secara tiba-tiba.


Semuanya mungkin. Sangat mungkin terjadi.


Apakah saya akan menangis? Pastinya.

Mungkin tidak hanya cry a river, tapi cry an ocean.




Kalo mengutip alkitab “Tuhan datang seperti pencuri di malam hari” (maaf saya lupa kitab apa dan ayat berapa, tapi semoga tidak salah kutip)


Jadi siapkan diri anda ya :)