Selasa, 17 Maret 2015

Zodiak | #MaretMenulis 14

Percaya ramalan bintang atau zodiak mungkin adalah hal yang konyol dan menggilikan bagi sebagian orang. Saya pun punya pikiran yang sama. Ramalan bintang memang sepertinya hanya mempan bagi remaja-remaja puber penuh gejolak yang sedang mencari jati diri.



Bagaimana dengan pembagian karakter berdasarkan zodiak? Salah satu teman pernah menyebutkan di Path-nya bahwa konyol jika kita percaya bahwa rasi bintang bisa menentukan karakter dan jalan hidup seseorang.  Saya setuju, mustahil jika susunan rasi bintang yang jaraknya entah-sekian-juta tahun cahaya itu bisa mempengaruhi hidup kita. Untuk menanggapi urusan perbintangan ini rasanya kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Coba kita kumpulkan beberapa orang dengan zodiak yang sama, katakanlah Leo, pasti mereka paling tidak akan berbagi kesamaan dalam hal: senang menjadi pusat perhatian, agak angkuh, dan bossy. Coba dengan zodiak yang lain, misalnya Aquarius, saya yakin mereka akan berbagi kesamaan dalam hal: sifat yang ramah, menjaga hubungan baik dengan semua orang, dan susah untuk mengatakan tidak saat dimintai bantuan. Pembagian karakter berdasarkan zodiak ini menurut saya bukanlah ramalan, ini adalah sebuah pembagian yang sistematis dan bisa sangat membantu untuk mengenal karakter seseorang.

Saya sendiri sudah tak ingat sejak kapan saya mulai menggunakan zodiak sebagai alat bantu untuk mengenal orang baru, namun yang jelas hal ini akan sangat berguna ketika kita akan membentuk sebuah tim kerja yang solid.

Tidak bisa dipungkiri, ada beberapa zodiak yang memang punya karakter pekerja keras, ada yang pemikir, ada yang tidak takut untuk mengungkapkan pendapat, dan ada juga zodiak yang punya karakter sangat perasa alias mudah sakit hati. Dengan patokan ini, akan lebih mudah bagi kita untuk memahami orang-orang di sekeliling kita.

Pembagian karakter berdasarkan zodiak memang bukan hal yang mutlak, karena masih ada pembagian karakter berdasarkan shio, golongan darah, dan sebagainya. Memang akan makin kompleks saat kita mencoba membaca karakter seseorang dari zodiak, shio, dan golongan darah sekaligus, karena akan muncul puluhan bahkan mungkin ratusan kemungkinan kombinasi karakter dari situ. Jalan mudahnya, gunakan saja salah satu. Tidak mungkin bukan, mengunakan gunting, cutter, dan pisau pada saat bersamaan?




----
Iya, harus diakui cari ini memang juga ampuh untuk urusan percintaan. Kita akan lebih mudah memahami karakter pacar atau gebetan dan tahu bagaimana mengambil hati mereka.

Senin, 16 Maret 2015

Komentar | #MaretMenulis 13

Entah sudah berapa orang yang berkomentar tentang tato yang saya miliki. Tato aksara Jawa di lengan kanan yang sebenarnya adalah nama lahir saya selalu saja dibaca ha-na-ca-ra-ka—entah dengan maksud bercanda atau menyinggung—dan tato di lengan kiri saya yang merupakan penggalan dari ayat kitab Ayub 37, selalu dikomentari mirip cetakan koran atau berita kehilangan.

Kadang memang terlintas, apa perlu menutup tato tersebut dengan tato lain yang lebih keren agar tidak banyak dikomentari; namun setelah dipikir lagi, rasanya itu tidak akan ada gunanya. Orang-orang pasti akan selalu punya komentar tentang apapun yang kita lakukan.






---

Tulisan pendek ini bisa jadi sebuah tulisan keputusasaan karena di hari ke 17 #MaretMenulis, baru ada 13 tulisan yang muncul di blog. 

Rabu, 11 Maret 2015

Istimewa | #MaretMenulis 11

Banyak  orang mempertanyakan, akankah Jogja tetap istimewa setelah berbagai bangunan beton dibiarkan menjamur beberapa tahun belakangan ini. Akankah Jogja tetap berhati nyaman, atau berhenti nyaman?

Menurut saya, sampai kapanpun Jogja akan tetap istimewa; istimewa karena akhirnya memiliki apartment yang menjulang tinggi dan pusat perbelanjaan super besar, istimewa karena masih memiliki Keraton dan bebrbagai bangunan cagar budaya yang mungkin sewaktu-waktu bisa berubah menjadi hotel berbintang, istimewa karena langitnya berhias reklame raksasa dan kabel-kabel listrik, istimewa karena kendaraan bermotor berjejal di jalanan hingga tak ada lagi tempat bagi sepeda dan becak, dan berbagai keistimewaan lainnya.
Istimewa?




Tulisan di atas adalah catatan kebimbangan seorang warga Jogja dari generasi peralihan yang gembira melihat masa depan kota kelahirannya yang metropolis, dan pada saat yang bersamaan khawatir anak cucunya tidak akan bisa lagi menikmati tanah leluhur mereka yang "berhati nyaman".

Senin, 09 Maret 2015

Anxiety | #MaretMenulis 9

Bepergian sendiri ke luar Jogja adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan. Jika terpaksa, saya harus memastikan semuanya benar-benar terencana dengan baik; tiket pulang-pergi, penginapan, itenerary, dan sebagainya.

Selalu ada kekhawatiran yang berlebihan saat saya harus melakukan perjalanan sendirian. Saya bisa bolak-balik membuka dompet atau tas untuk memeriksa tiket, apakah saya berada di jalur atau gerbang yang benar, lalu saya akan duduk dan mengingat-ingat apakah ada barang yang tertinggal atau tidak, kadang saya akan membuka tas dan meraba untuk sekedar memastikan semua barang bawaan ada di sana, kemudian saya akan bolak-balik melihat jam tangan dan jam di ruang tunggu, lalu melihat sekeliling sambil membayangkan siapakah yang akan duduk di sebelah saya nanti, dan mengulangi semua dari awal, mungkin dengan ditambahkan beberapa kali ingin ke toilet.

Saya selalu iri dengan para backpacker yang bisa menjelajah hingga ke berbagai belahan dunia seorang diri. Terlalu muluk sepertinya jika ingin melakukan hal yang sama, bagaimana tidak, untuk sekedar pergi ke Solo atau Semarang sendirian saja saya sudah cukup gelisah, apalagi ke luar negeri  yang sama sekali asing bagi saya.
Travel anxiety, begitulah sebutannya. Kegelisahan, ketakutan, kekhawatiran saat akan bepergian.
Travel anxiety is such a complex issue that some people have the anxiety without even realizing it. There are those that find that they'll make an effort to avoid travelling as best they can (like not buying a ticket or thinking up excuses) because the idea of travelling makes them anxious, yet they do not even realize that they have travel anxiety in the first place. (https://www.calmclinic.com/anxiety/types/travel)
Dari beberapa penyebab travel anxiety yang disebutkan di calmclinic.com, yang paling cocok dengan saya adalah Home Comfort. Jauh dari tempat yang membuat kita merasa aman dan nyaman bisa menjadi sumber tekanan yang bagi beberapa orang akan berujung pada stress. Aneh memang, saat kita berencana untuk berlibur ke luar kota untuk melepaskan stress, justru bagi sebagian orang yang mengidap Travel Anxiety, hal ini akan menjadi beban pikiran tersendiri.

Saya sendiri tidak berencana terlalu lama menjadi pengidap Travel Anxiety. Beruntungnya beberapa pekerjaan mengharuskan saya untuk bepergian ke luar kota sendirian. Walaupun hanya sekedar ke Solo, Jakarta, atau Bali, yang jelas ada kepuasan tersendiri saat saya bisa membuktikan pada si penakut dalam diri saya, bahwa kita ketakutan itu tidak nyata. Paksaan, kadang itulah yang dibutuhkan untuk mengalahkan rasa takut.

..dan saya tidak takut untuk mengalahkan rasa takut.


Vulnicura | #MaretMenulis 8



Sepertinya lagu Bachelorette-lah yang membuat saya jatuh cinta pada Bjork. Video klip yang menunjukkan sebuah konsep ketidakterbatasan itu sungguh menancap di kepala. 

Saya mulai lebih dalam mengenal Bjork di awal tahun 2000an lewat album Greatest Hits-nya, dan menjadi pengikutnya sejak saat itu.  Ada perasaan aneh dan emosi yang bercampur aduk saat mendengarkan lagu-lagu Bjork; kita seperti tidak tahu sedang berada di mana, di masa apa.

Secara personal, saya lebih suka Bjork versi 90an. Bjork yang melodis, orchestral, dan seperti manusia biasa. Bukan berarti saya tidak suka Bjork versi eksperimental, buktinya, saya sangat menikmati album Medulla. 

Ketika mengetahui bahwa Bjork akan merilis album baru, yang kesembilan, saya agak ragu apakah saya bisa langsung menikmatinya. Apakah saya butuh waktu beberapa saat untuk mencerna album tersebut—seperti yang terjadi pada Volta—sampai akhirnya bisa benar-benar menikmatinya?
Jawabannya ternyata tidak. Baru malam ini akhirnya saya mendengarkan Vulnicura, dan saya langsung suka. Saya jatuh cinta. 

Bjork yang melodis dan penuh orkestrasi akhirnya kembali! Mendengarkan Vulnicura seperti membawa kita kembali pada Bjork di era 90an, namun dalam versi yang lebih ghotic dan ghostly; bisa dipahami karena album ini memang merupakan kisah perpisahan antara Bjork dan pasangannya, Matthew Barney. 

The context, if you want it, is that Björk recently separated from her longtime romantic partner, the artist Matthew Barney, with whom she has a 12-year-old daughter. She then "documented this in pretty much accurate emotional chronology," as she wrote on Facebook shortly after the album was rushed to iTunes in response to a leak. (http://www.theatlantic.com/entertainment/archive/2015/01/bjorks-vulnicura-is-the-definition-of-devastating/384735/)


Di sisi lain, Vulnicura juga ternyata terapi penyembuhan luka—atau mungkin pelarian—bagi Bjork.

Vulnicura, meaning ‘Cure for Wounds’ in Greek (vulnus meaning ‘wound’ plus cura  meaning ‘cure’)..  (http://icelandreview.com/stuff/reviews/2015/01/28/bjorks-vulnicura)

Beruntunglah para seniman yang bisa membuat luka dan kepedihan menjadi sebuah karya seni yang begitu indah.

Sabtu, 07 Maret 2015

#MaretMenulis Sejauh Ini

Hari ketujuh lebih sedikit. Berikut ini alamat blog yang didapatkan dari hasil pencarian tagar #MaretMenulis. Urutan bukan berdasarkan peringkat, ya, teman-teman.


Adakah alamat blogmu di sini? ;)

Idoling | #MaretMenulis 6

Beberapa hari yang lalu saya sepintas membaca twit dari sebuah majalah remaja cowok yang mengatakan bahwa “idoling” merupakan bentuk dari pencarian jatidiri remaja.

Tiba-tiba saya teringat kembali ketika saya duduk di bangku SMP dan SMA. Walaupun tidak pernah benar-benar mengidolakan satu musisi atau band, tapi saat itu saya juga melakukan hal yang rasanya cukup wajar juga dilakukan oleh remaja pada masanya: membeli majalah remaja, menempel poster di tembok kamar, menjadikan pin-up yang didapat dari halaman tengah majalah remaja sebagai cover depan binder note, menghafal lagu-lagu top 40, termasuk menambahkan nama belakang musisi idola saat kita menuliskan nama. Nama belakang saya dulu Chisholm, kadang Corr. Entah apa masih ada anak-anak generasi sekarang yang mengenal nama itu.

Dimulai dengan memuja, tahap selanjutnya adalah menjadi. Ya, menjadi sang idola. Ketika itu yang paling populer adalah tindik dan cat rambut. Remaja pria memasang tindik di kuping kiri, remaja perempuan menambah tindik hingga dua atau tiga lubang di tiap kuping. Saya sendiri mendapatkan tindik pertama saat SMA, di tulang rawan kuping kiri bagian atas.

Sedangkan untuk masalah rambut, tentu saja warna yang populer adalah pirang (melalui proses bleaching, harga bleach relatif murah), burgundy (harga agak mahal, jadi penyelesaiannya adalah dengan patungan), dan blue black (harga setara burgundy namun hasil tak ada bedanya dengan sebelum mewana rambut). Area kepala yang dicat pun tidak seluruhnya, biasanya hanya bagian atas (atau bagian akar rambutnya saja jika model rambut belah tengah) atau bagian jambul (atau belahan depan kanan dan kiri jika model rambut belah tengah). Saya sendiri pertama kali mewarna rambut adalah saat kelas 3 SMP dan mulai tergila-gila dengan cat rambut saat kuliah.

Jika melihat kembali ke masa itu, setiap orang yang sekarang sudah beranjak dewasa pasti akan malu atau pura-pura tidak mengenali diri sendiri ketika foto-foto pada masa pencarian jatidiri itu dengan sengaja diunggah oleh salah satu teman dekat kita.
Sebenarnya tidak ada yang salah di masa pencarian jati diri itu, karena semua orang tidak mungkin tidak mengalaminya...



...yang salah adalah kenapa kita harus mengabadikannya dalam foto!





NB. Terimakasih untuk Mita dan Timmy yang menginspirasi tulisan ini.